 |
| berdua saja di 1800mdpl (Talung) |
Di depan huruf "S" adalah
tempat pertemuan
Pupil matanya mengecil
sedetik
Seperti berkata "semoga
kamu bukan binatang"
Kedua telapak tangan
bersentuhan, pertemanan.
Manisnya pisang epe
penghilang rasa takutnya
Tetesan kopi vietnam
membuyarkan kesepian
Kamar kost berwarna merah
muda memberikan sedikit kenyamanan dibanding biru langit
Terdengar riuk air toilet
sebelah memecah kesunyian pagi, air wudhu.
Bulir air mendidih keluar
dari kelenjar keringat
Dipanaskan bola api besar
dari jutaan kilometer
Karst Rammang-rammang adalah
tungkunya
Aroma petualangan menyerbak
Aku sudah seperti kertas
kusut
Tetapi kamu Bunga Bougenvil
yang tetap segar di tanah tandus
Bantimurung sudah menjadi
kenangan,
Tak ada lagi sayap-sayap
kecil yang akan menghampirimu, mereka menjadi kaku dalam bingkai kaca.
Lebih baik mengejar senja Pantai
Losari yang menjanjikan keindahan
walau dia sedikit malu untuk
menampakkan ronanya karena ada yang lebih sore itu
Tetapi dia adalah alasanku
selalu ingat pulang.
Kamu bilang suka melihat
sesuatu dari ketinggian
Batu Tumonga titik yang tepat
menikmati Tana Toraja, mungkin kamu terlalu bernafsu sehingga enggan
menampakkan paras menawannya
Lalu dia memperlihatkanmu
kekejaman Mappasilaga Tedong
Hembusan nafas Bawakaraeng
memecah kesunyian desa Lemmbanna yang memang sepi
Di atas sofa, si kucing manja
takut kucing sedang bermalas-malasan.
Disana sebatang pinus
menunggunya diatas Talung berharap ada kawan baru menyambut sang fajar
Sebait doa terucap dalam
hatinya mengawali langkah memproteksi diri berharap keselamatan
Sepasang cucu adam tapi bukan
pasangan
membelah rimba
Dingin malam tak mampu
bekukan semangatnya
Kakinya bertumpu pada akar
dan bebatuan seperti menaiki anak tangga
Didalam kemah di tengah
belantara dia tertidur
Suara nafasnya mengantarku ke
alam mimpi
Jari telunjuknya mencolek
pipiku
Aku tejaga dan seketika
melupakan mimpiku
di balik puncak Bawakaraeng
sumber kehidupan memulai hari, kehangatannya melelehkan kristal embun.
Refleksi ibu-ibu kompleks di
jalan berbatu mewarnai senja
kemarau merenggut kemewahan
Air Terjun Parangloe
Petualangan.
Ada gelisah di punggung
mungilnya
Kutitipkan kegelisahan itu
kepada kawan
Dia sedikit lelah tetapi
semangatnya tak padam
Sedikitpun tidak.
Bandul yang mengantung diatas
kelopak mata menemani ratusan kilometer menuju Butta Panrita Lopi
Lala si putri tidur
Mentari sedikit berkompromi
dengannya
Memulihkan sedikit kekecewaan
di dadanya
Tanjung Bira sudah tidak
perawan lagi
Wajah putih selembut terigu
sudah keriput
Pantai Bara menggantikan
pesonanya
Pasirnya bak seprai hotel
bintang lima
Dihiasi kontrasnya gaun pink
Titik terbawah Celebes
bersembunyi dibalik duri dan batuan tajam
Sampai berjumpa kembali
Lala si putri tidur
Dari spion kiri
Angin laut menerpa wajahnya
Kelopak matanya tertutup
Dagunya bersandar di kokohnya
bahuku
Lala si putri tidur sedang
lelah
Tak ada yang tega
membangunkannya.
Lala si putri tidur sedang
tidur.
Butta Turatea, 24 Oktober
2014