Rabu, 29 Oktober 2014

Tentang Lala

berdua saja di 1800mdpl (Talung)

Di depan huruf "S" adalah tempat pertemuan
Pupil matanya mengecil sedetik
Seperti berkata "semoga kamu bukan binatang"
Kedua telapak tangan bersentuhan, pertemanan.
Manisnya pisang epe penghilang rasa takutnya
Tetesan kopi vietnam membuyarkan kesepian
Kamar kost berwarna merah muda memberikan sedikit kenyamanan dibanding biru langit
Terdengar riuk air toilet sebelah memecah kesunyian pagi, air wudhu.

Bulir air mendidih keluar dari kelenjar keringat
Dipanaskan bola api besar dari jutaan kilometer
Karst Rammang-rammang adalah tungkunya
Aroma petualangan menyerbak
Aku sudah seperti kertas kusut
Tetapi kamu Bunga Bougenvil yang tetap segar di tanah tandus
Bantimurung sudah menjadi kenangan,
Tak ada lagi sayap-sayap kecil yang akan menghampirimu, mereka menjadi kaku dalam bingkai kaca.
Lebih baik mengejar senja Pantai Losari yang menjanjikan keindahan
walau dia sedikit malu untuk menampakkan ronanya karena ada yang lebih sore itu
Tetapi dia adalah alasanku selalu ingat pulang.

Kamu bilang suka melihat sesuatu dari ketinggian
Batu Tumonga titik yang tepat menikmati Tana Toraja, mungkin kamu terlalu bernafsu sehingga enggan menampakkan paras menawannya
Lalu dia memperlihatkanmu kekejaman Mappasilaga Tedong

Hembusan nafas Bawakaraeng memecah kesunyian desa Lemmbanna yang memang sepi
Di atas sofa, si kucing manja takut kucing sedang bermalas-malasan.
Disana sebatang pinus menunggunya diatas Talung berharap ada kawan baru menyambut sang fajar
Sebait doa terucap dalam hatinya mengawali langkah memproteksi diri berharap keselamatan
Sepasang cucu adam tapi bukan pasangan
membelah rimba
Dingin malam tak mampu bekukan semangatnya
Kakinya bertumpu pada akar dan bebatuan seperti menaiki anak tangga
Didalam kemah di tengah belantara dia tertidur
Suara nafasnya mengantarku ke alam mimpi
Jari telunjuknya mencolek pipiku
Aku tejaga dan seketika melupakan mimpiku
di balik puncak Bawakaraeng sumber kehidupan memulai hari, kehangatannya melelehkan kristal embun.

Refleksi ibu-ibu kompleks di jalan berbatu mewarnai senja
kemarau merenggut kemewahan Air Terjun Parangloe
Petualangan.

Ada gelisah di punggung mungilnya
Kutitipkan kegelisahan itu kepada kawan
Dia sedikit lelah tetapi semangatnya tak padam
Sedikitpun tidak.
Bandul yang mengantung diatas kelopak mata menemani ratusan kilometer menuju Butta Panrita Lopi
Lala si putri tidur
Mentari sedikit berkompromi dengannya
Memulihkan sedikit kekecewaan di dadanya
Tanjung Bira sudah tidak perawan lagi
Wajah putih selembut terigu sudah keriput
Pantai Bara menggantikan pesonanya
Pasirnya bak seprai hotel bintang lima
Dihiasi kontrasnya gaun pink
Titik terbawah Celebes bersembunyi dibalik duri dan batuan tajam
Sampai berjumpa kembali

Lala si putri tidur
Dari spion kiri
Angin laut menerpa wajahnya
Kelopak matanya tertutup
Dagunya bersandar di kokohnya bahuku
Lala si putri tidur sedang lelah
Tak ada yang tega membangunkannya.
Lala si putri tidur sedang tidur.



Butta Turatea, 24 Oktober 2014

0 komentar:

Posting Komentar